Rapat Koordinasi AIPT UMINA: Menyatukan Langkah, Menguatkan Tanggung Jawab Menuju Akreditasi Unggul

Blitar, 9 Februari 2026
Suasana serius namun penuh semangat terasa kuat di Kampus Universitas Madani Indonesia (UMINA) Blitar, Senin (9/2/2026). Seluruh unsur pimpinan kampus, mulai dari rektorat, dekanat, hingga ketua program studi, berkumpul dalam Rapat Koordinasi AIPT (Akreditasi Institusi Perguruan Tinggi)—sebuah momentum penting yang menjadi penentu masa depan institusi.

Rapat yang digelar sebagai langkah strategis ini dipimpin langsung oleh Rektor UMINA, Prof. H. M. Zainuddin, M.Pd. Dalam arahannya, beliau menegaskan bahwa akreditasi institusi bukan sekadar formalitas administratif, melainkan cermin mutu, integritas, dan komitmen bersama seluruh sivitas akademika.

“Hari ini kita ingin melakukan sinkronisasi antara rektorat, dekan, dan kaprodi. AIPT ini tidak bisa dikerjakan sendiri-sendiri. Ini kerja kolektif, kerja institusi,” tegas Prof. Zainuddin dengan nada penuh penekanan.


Sinkronisasi 9 Kriteria AIPT: Dari Dokumen ke Realita

Fokus utama rapat adalah sinkronisasi 9 kriteria AIPT sesuai standar IAPT 3.0 / IAPS 4.0. Kesembilan kriteria tersebut menjadi “napas” penilaian mutu perguruan tinggi, yang harus terhubung secara utuh, logis, dan berbasis data nyata.

Kesembilan kriteria tersebut meliputi:

  1. Visi, Misi, Tujuan, dan Strategi – kejelasan dan konsistensi arah pengembangan UMINA.

  2. Tata Pamong, Tata Kelola, dan Kerjasama – sistem pengelolaan yang kredibel, transparan, dan akuntabel.

  3. Mahasiswa – kualitas layanan, pembinaan minat bakat, hingga bimbingan karir.

  4. Sumber Daya Manusia (SDM) – kompetensi dan kinerja dosen serta tenaga kependidikan.

  5. Keuangan, Sarana, dan Prasarana – kecukupan dan pemanfaatan sumber daya pendukung tridharma.

  6. Pendidikan – mutu kurikulum, pembelajaran, dan suasana akademik.

  7. Penelitian – produktivitas dan kualitas riset dosen serta mahasiswa.

  8. Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) – dampak nyata kehadiran kampus bagi masyarakat.

  9. Luaran dan Capaian Tridharma – prestasi mahasiswa, IPK, tracer study, hingga kepuasan pengguna lulusan.

Pembagian tugas pun dilakukan secara tegas dan terstruktur. Di tingkat universitas, rektorat bertanggung jawab penuh. Di tingkat fakultas, dekan menjadi penanggung jawab utama, sementara di tingkat program studi, kaprodi memegang peran kunci. Termasuk di dalamnya aspek sarana dan keuangan, yang menjadi fondasi penting dalam penilaian akreditasi.

AIPT: Urgensi yang Tidak Bisa Ditunda

Prof. Zainuddin menegaskan bahwa AIPT adalah agenda yang sangat urgent. Tidak ada ruang untuk berjalan sendiri, apalagi saling menunggu. Semua pihak harus mengambil peran dan bertanggung jawab sesuai porsinya.

“AIPT ini harus kita hadapi bersama. Semua pihak bertanggung jawab. Ini bukan tugas satu orang, ini tugas institusi,” tandasnya.

 

“Bukan sekadar bagaimana borang itu terlihat bagus, tapi bagaimana isinya mencerminkan kerja nyata kita semua,” ujarnya.

Rapat koordinasi ini menjadi penanda kuat bahwa UMINA Blitar tengah menyatukan langkah, menguatkan komitmen, dan meneguhkan arah menuju institusi perguruan tinggi yang bermutu dan berdaya saing.

Dengan sinergi rektorat, dekanat, dan program studi, UMINA optimistis mampu menghadirkan akreditasi institusi yang tidak hanya baik di atas kertas, tetapi kokoh dalam praktik dan nyata dalam kontribusi.

0 Comments